image PENYAKIT PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DAN SOLUSINYA (2) - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

PENYAKIT PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DAN SOLUSINYA (2)

Ternak Pertama - PENYAKIT PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DAN SOLUSINYA - Pada postingan terdahulu mengenai penyakit pada peternakan ayam petelur dan solusinya bagian 1 telah di jelaskan 4 penyakit yang sering menyerang ayam petelur. Selanjutnya akan dibahas kembali penyakit lainya.

1.    Fowl Cholera
Kolera. Daerah pial dan muka membesar
Penyebab : bakteri Pasteurella multocida
Gejala Klinis: sering mati tanpa gejala yang jelas, diare berwarna hijau kekuningan, keluarnya kotoran dari mata, daerah pial dan muka membesar dan biasanya kehitaman, lumpuh karena pembengkakan pada kaki.
Patologi anatomi: perdarahan titik pada jantung, selaput proventikulus dan lemak perut, hati membengkak dan gelap belang, duodenum mebengkak berisi eksudat kental.
Diagnosa banding : ND, CRD, Snot
Faktor predisposisi: ventilasi udara yang tidak lancar, transportasi, perubahan cuaca atau kekurangan vitamin A
Penularan : penularan terjadi secara horizontal baik secara langsung maupun tidak lagsung, yaitu dari ayam sakit ke sehat dan dari peralatan, petugas kandang dll.
Pencegahan: sanitasi kandang dan peralatan kandang, mencegah tamu keluar-masuk kandang, manajemen yang baik, ventilasi cukup, pakan yang seimbang
Pengobatan: Tetrasiklin, Oksitetrasiklin, Sulfadiazine, Amoksisilin, Enrofloksasin
Kerugian: kematian cukup tinggi, penurunan berat badan

2.    Gumboro (Infectious Bursal Disease)

Gumboro. Bursa fabrisius membesar
Penyebab: virus dari golongan Birnaviridae
Gejala Klinis: hilangnya nafsu makan, bulu merinding, gemetar, berak putih, mengantuk.
Patologi anatomi: pembengkakan bursa fabrisius, perdarahan garis pada otot dada dan paha, ginjal membengkak, perdarahan titik pada mucosa proventikulus (perbatasan proventikulus-ventriculus).
Diagnosa banding: Leucocytozoonosis, ND
Faktor predisposisi: stess akibat pergantian cuaca, pergantian pakan, cuaca dingin, pergantian sekam (turun sekam)
Penularan: umumnya karena pencemaran lingkungan oleh virus yang keluar bersama tinja, bahan muntahan yang mengandung virus, secara tidak langsung melalui pakan, air minum, peralatan kandang yang tercemar.
Pencegahan: vaksinasi, perbaikan manajemen, bioscurity, pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh (saat turun sekam, pergantian cuaca dll)
Pengobatan: tidak ada obat. Pemberian air gula (5-8%), parasetamol, multivitamin untuk meningkatkan kondisi tubuh dan proses penyembuhan, pemberian pemanas untu anak ayam, antibiotik (3-5 hari) untuk mencegah infeksi sekunder. Pilih antibiotik yang tidak mempengaruhi kerja ginjal
Kerugian: mortalitas rendah sampai tinggi tergantung keanasan virus, pertumbuhan terhambat, menimbulkan efek immunosuppressif (menghambat pembentukan zat kebal) sehingga mudah terserang penyakit lain

3.    Tetelo/ND (Newcastle Disease)
ND. Kepala tortikolis (terpelintir)
Penyebab: virus Paramyxo
Gejala Klinis: bervariasi dari tidak jelas sampai sangat jelas, gangguan pernafasan (batuk, sesak nafas, gorok, lender keluar dari hidung), gangguan pencernaan (diare hijau keputihan), gangguan saraf (tubuh gemetar, kejang, kelumpuhan kaki da sayap, leher terpuntir dan ayam berputar-putar)
Patologi anatomi: perdarahan di kerongkongan, perdarahan pada saluran pencernaan (keropeng), bintik perdarahan di proventrikulus, bintik-bintik perdarahan pada lemak tubuh, perdarahan di ovarium.
Diagnosa banding: IB, ILT, Snot, CRD, Guboro
Faktor predisposisi: sanitsai jelek, amoniak dalam kandang tinggi, terkena penyakit yang bersifat immunosuppressive, stess
Penularan: kontak langsun dengan ayam sakit, melalui alat yang tercemar, petugas kandang, binatang peliharaan , transportasi.
Pencegahan: vaksinasi, bioscurity dan manajemen pemeliharaan baik
Pengobatan: tidak ada obat, antibiotik selama 3-5 hari untukl mencegah adanya penyakit sekunder oleh bakteri, multivitamin untuk meningkatkan kondisi tubuh dan proses penyembuhan, penyediaan ransum dan air minum segar.  Revaksinasi (vaksinasi ulang) jika diperlukan terutama jika umur pemeliharaan masih memungkinkan.
Kerugian: mortalitas bisa mencapai 100%, ganguan saraf, pernafasan dan pencernaan, pertumbuhan terhambat, konversi pakan jelek.

4.    Afian Influenza (AI)
AI. Leban pada kaki dan daerah dada
Penyebab: virus orthomixso H5N1
Gejala Klinis: ayam kadang mati mendadak tanpa gejala yang jelas, pial berbarna gelap, telapak kaki merah (seperti bendun darah), kelopak mata dalam ada tonjolan putih).
Patologi anatomi: perdarahan (keropeng merah-hitam) pada proventikulus, bintik merah pada daging paha dada, bursa fabrisius bengkak dan merah, peradangan pada trachea, paru-paru hitam (lebam darah), jantung terdapat bercak darah, iritasi usus dan keropeng pada seka tonsil.
Diagnosa banding: ND, Gumboro
Faktor predisposisi: bioscurity jelek, manajemen pemeliharaan kurang baik
Penularan: melalui tinja dan melalui kontak langsung dengan ayam maupun tinja ayam.  Bersifat zoonosis (menular pada manusia) melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit atau saat mengolah daging ayam terutama bagian penceranaan.
Pencegahan: sanitasi disinfeksi kandang dan peralatan, manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, mencegah burung-burung dan tamu keluar masuk kandang, disinfeksi mobil pakan, panen dan pengangkut kotoran ayam, dan vaksinasi didaerah yang pernah terjangkit AI.    
Pengobatan: tidak ada obat, pemberian multivitamin untuk meninkatkan daya tahan tubuh.
Kerugian: mortalitas tinggi mencapai 100% dan bila satu kandang ada yang terkena maka seluruh ayam harus dimusnahkan dengan cara dibakar. 

5.    Infectious Bronchitis (IB)
IB. Dapat mengakibatkan abnormal telur
Penyebab: virus golongan Corona virus dan mempunyai struktur RNA. Dikenal 8 serotipe, yaitu Massachusetts, Conecticut, Georgia, Delaware, lowa 97, lowa 69, New Hampshire dan Australian T.
Gejala Klinis: keluar lendir dari hidung, sesak nafas, ngorok, panting, bersin dan batuk serta nafsu makan turun. Mutu dan kualitas telur menurun dan putih telur encer.
Patologi anatomi: dinding trachea menjadi tebal, berwarna keputih-putihan, terdapat lendir, pada selaput lendir terdapat bercak-bercak perdarahan. Kerusakan pada indung telur dan saluran telur. Indung telur berdarah, membengkak, lembek dan pecah sehingga tidak bervungsi lagi. Jika pada indung telur terdapat kuning telur yang siap diovulasikan (sudah matang) biasanya kuning telur akan pecah dan mengalir keluar pada rongga perut. Pembengkakan ginjal disertai pengendapan asam urat pada ureter (saluran kencing).
Diagnosa banding: ND, ILT, EDS’76, CRD dan SNOT
Faktor predisposisi: stress dan bioscurity dan manajemen pemeliharaan jelek.
Penularan: melalui lendir yang keluar akibat batuk, atau lendir yang dikeluarkan dari mata/lubang hidung. Melalui udara yang mengandung partikel virus dan melalui manusia.
Pencegahan: sanitasi disinfeksi kandang dan peralatan, manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, mencegah burung-burung dan tamu keluar masuk kandang, disinfeksi mobil pakan, panen dan pengangkut kotoran ayam, dan vaksinasi. Vaksinasi sangat penting untuk melindungi alat reproduksi telur.      
Pengobatan : tidak ada obat, pemberian multivitamin untuk meninkatkan daya tahan tubuh serta antibiotik broad spectrum untuk mencegah infeksi sekunder.
Kerugian: Kematian 0-40% pada anak ayam, pada ayam muda pertumbuhan dan produksinya terhambat, kerusakan alat reproduksi telur sehingga tidak bisa menghasilkan telur. Pada ayam dewasa produksi telur turun 10-50% dan kualitas telur rendah karena kerabang telur bentuknya abnormal, kasar atau lunak. Putih telur berubah dari kental menjadi encer.

6.     Egg Drop Syndrome (EDS’76)
EDS. Seperti IB dapat mengakibatkan telur abnormal
Penyebab: virus golongan Adenovirus yang bersifat mengaglutinasikan (menggumpalkan) sel-sel darah merah unggas
Gejala Klinis: ayam tampak sehat tetapi penurunan produksi telur secara mencolok disertai penurunan kualitas telur. Kerabang telur menjadi pucat, lembek atau kasar, telur berubah bentuk atau kecil.
Patologi anatomi: Limpa sedikit membesar dan bagian bintik putihnya membesar, oviduct kendur dan pengecilan ringan pada calon kuning telur.
Diagnosa banding: ND, IB
Faktor predisposisi: stress, bioscurity jelek, manajemen pemeliharaan kurang baik
Penularan: penularan secara horisontal (dari ayam ke ayam) dan secara vertikan dari induk ke anak ayam.
Pencegahan: sanitasi disinfeksi kandang dan peralatan, manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, mencegah burung-burung dan tamu keluar masuk kandang, disinfeksi mobil pakan, panen dan pengangkut kotoran ayam, dan vaksinasi EDS. 
Pengobatan: tidak ada obat, pemberian multivitamin untuk meninkatkan daya tahan tubuh.

Kerugian: meskipun ayam tampak sehat tetapi penyakit ini akan menyebabkan penurunan kualitas telur yang tajam disertai penurunan kualitas kerabang telur serta ukuran telur.

Artikel Sebelumnya :

0 Komentar untuk "PENYAKIT PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DAN SOLUSINYA (2)"
Back To Top