image CARA MEMBUAT PAKAN AYAM PETELUR SENDIRI (3) - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

CARA MEMBUAT PAKAN AYAM PETELUR SENDIRI (3)



Bagian 3. Bahan Penyusun Pakan Ayam Petelur (Sumber Protein)


BAHAN BAKU SUMBER PROTEIN

Pada bahasan yang lalu, cara membuat pakan ayam petelur sendiri bagian 2 telah dijelaskan mengenai bahan penyusun pakan sumber energi. Selain sumber energi, pakan juga harus mengandung sumber proten. Bahan baku sumber protein adalah bahan pakan yang mengandung protein tinggi. Bahan tersebut bisa berasal dari hewan (hewani) dan tumbuhan (nabati). Bahan pakan sumber protein tersebut misalkan bungkil kedelai (Soybean meal), corn gluten meal (CGM), tepung ikan, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah (peanut meal), tepung daging dan tulang (meat and bone meal, MBM)

Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber protein yang bisa digunakan dalam formulasi pakan. Bungkil kedelai mengandung protein tinggi dan kaya lisin, tetapi metioninnya rendah. Ketersediaan bungkil kedelai di Indonesia memang tidak mencukupi, sehingga ketersedianya masih mengandalkan impor dari negara lain seperti, Amerika, Brazil, Argentina dan India.

Kandungan nutrisi bungkil kedelai sangat bervariasi, tergantung jenis pengolahanya. Standar kualitas bungkil kedelai tercantum dalam SNI 01-4227-1996 yang terdiri atas dua mutu, yaitu mutu 1 yang proteinya lebih tinggi dari pada mutu 2. Kadar protein bungkil kedelai mutu 1 adalah minimum 46% sedangkan mutu 2 minimum 40%. Faktor pembatas yang harus diperhatikan adalah kadar aflatoksinya yang tidak boleh lebih dari 50 ppb. Penggunaan dalam pakan ayam petelur maksimal 30%. Kelebihan bungkil kedelai dapat mengakibatkan feses basah.

Corn Gluten Meal (CGM)

Corn Gluten Meal (CGM) merupakan bahan pakan sumber protein yang diperoleh dari pengolahan jagung secara basah. Kandungan protein CGM sangat tinggi yaitu mencapai 60% dengan energi metabolisme 3.750 kkal/kg. CGM memiliki kandungan lisin yang rendah sehingga penggunaanya dalam pakan dapat disuplay dengan sumber lisin sintetis. CGM yang baik memiliki kepadatan sebesar 578 kg/m3. CGM memiliki pigmen xantofil yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung kuning. Pemakaian CGM dalam ransum lebih dari 10% dapat meningkatkan warna kuning pada kuning telur. Penggunaan CGM maksimal 20% dalam pakan ayam petelur.

Tepung Ikan (Fish Meal)

Tepung ikan merupakan bahan pakan hampir pasti selalu digunakan dalam penyusunan ransum karena memiliki kualitas protein dan sumber asam amino yang baik. Jenis tepung ikan ada yang berasal dari impor ataupun lokal.  Kualitas tepung ikan dikontrol berdasarkan SNI 01-2715-1996/Rev.92. Menurut SNI, tepung ikan yang digunakan dalam pakan ayam petelur harus bebas dari Salmonela. Kandungan protein tepung ikan berbeda tergantung mutunya. Menurut standar SNI, kadar protein tepung ikan mutu 1 adalah minimal 65%, mutu 2 sebesar 55%, dan mutu 3 sebesar 45%.

Tepung ikan yang diimpor dari Amerika memiliki nama herring meal, white fish meal, dan menhaden meal yang dibedakan berdasarkan ikan yang digunakan dalam pembuatan tepung ikan. Kualitas tepung ikan impor diukur kepadatanya sebesar 674 kg/m3. Penggunaan tepung ikan dalam ransum > 2% menyebabkan bau amis pada telur dan daging.

Tepung ikan lokal memiliki kandungan nutrien yang sangat bervariasi karena berasal dari jenis ikan yang tidak standar ataupun berasal dari limbah pengolahan ikan. Sebelum digunakan, sebaiknya tepung ikan dianalisis kandungan protein kasar dan kalsiumnya. Tepung ikan yang berasal dari limbah pengolahan ikan (biasanya terdiri atas kepala dan tulang) biasanya mengandung kadar abu yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan utuh.

Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa adalah hasil ikutan yang diperoleh dari ekstraksi daging buah kelapa segar atau kering dan dapat digunakan sebagai sumber protein. Keterbatasan pemakaian bungkil kelapa dalam pakan  disebabkan oleh rendahnya kecernaan protein, ketidakseimbangan lisin dan metionin, serta mudah tengik jika disimpan terlalu lama karena kandungan minyaknya tinggi. Berdasarkan SNI 01-2904-1992 protein minimum adalah 18% untuk mutu 1 dan 16% untuk mutu 2.




Bungkil Kacang Tanah (Paenut Meal)

Bungkil kacang tanah merupakan hasil ikutan penggilingan biji kacang tanah setelah ekstraksi minyak secara mekanik (expeller) ataupun secara kimia (solvent). Bungkil kacang tanah merupakan bahan pakan sumber protein pada ayam. Penggunaanya dalam pakan ayam petelur terbatas karena mengandung serat kasar yang tinggi. Persyaratan mutu bungkil kacang tanah menurut SNI antara lain adalah protein kasar  minimum 46% untuk mutu 1 dan 40% untuk mutu 2. Sedangkan serat kasar maksimum untuk mutu 1 dan 2 berturut-turut 12% dan 14%. Penggunaannya dalam ransum maksimal 10%.

Tepung Daging dan Tulang (Meat and Bone Meal, MBM)

Tepung daging dan tulang merupakan bahan pakan sumber protein dari sumber hewani. Kualitasnya bervariasi tergantung dari jumlah tulang yang digunakan. Bila jumlah tulang yang digunakan untuk membuat MBM tinggi, maka terlihat dari kandungan abu atau mineral Ca dan P yang tinggi. MBM sebagai bahan baku pakan sumber protein memiliki kandungan protein 50% dengan energi metabolime sebesar 2.450-2.850 kkal/kg dan dapat menyumbangkan Ca cukup tinggi di dalam pakan. Penggunaan dalam ransum dibatasi maximum 8%.


Tag : Artikel, Layer
0 Komentar untuk "CARA MEMBUAT PAKAN AYAM PETELUR SENDIRI (3)"
Back To Top