image MENGATASI PROLAPSUS DI PETERNAKAN AYAM PETELUR - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

MENGATASI PROLAPSUS DI PETERNAKAN AYAM PETELUR


Pernahkah anda bagian anus (tempat keluarnya telur/kotoran) melihat ayam petelur keluar setelah ayam bertelur? Berdasarkan pengamatan saya, hampir sebagian peternak ayam petelur bisa dipastikan pernah menjumpainya.  Kejadian semacam itu disebut prolapsus. Apa penyebabnya dan bagaimana menanganinya?

Prolapsus adalah keluarnya saluran telur dari anus/kloaka yang tidak segera tertarik masuk kembali. Hal tersebur terjadi karena tidak lancarnya pengeluaran telur, yang bisa disebabkan oleh adanya peradangan pada saluran telur atau melemahnya otot-otot saluran reproduksi. Ayam yang prolapsus harus secepatnya dipisahkan dari kandang dan ditempatkan tersendiri. Apabila tidak segera dipisahkan, maka ayam lain di sampingnya akan mematuki anusnya yang keluar sehingga menyebabkan pendarahan dan infeksi, yang pada akhirnya mengakibatkan kematian. Disamping itu, apabila terinfeksi bakteri, prolapsus dapat mengakibatkan peradangan selaput rongga perut  atau egg peritonitis.

Kerugian

Ayam yang terkena prolapsus tentu saja akan meyebabkan ayam berhenti berproduksi (baik permanen ataupun sementara). Kondisi ini semakin diperparah jika terjadi infeksi pada organ ayam keluar sehingga bisa mengakibatkan kematian. Ada beberapa kasus dilapangan bahwa kejadian prolapsus yang tidak ditangani secara cepat dapa memicu terjadinya kanibalisme. Dengan demikian, secara ekonomis tentu sangat merugikan.

Gejala Awal

Pengamatan terhadap prolapsus harus rutin dilakukan peternak. Dengan demikian, peternak harus mengetahui gejala awal terjadinya prolapsus. Gejala awal prolapsus biasanya ditandai dengan adanya lumuran darah pada kerabang telur. Kondisi ini mengindikasikan adanya pendarahan pada saluran reproduksi. Kasus ini banyak terjadi pada pullet muda yang dipaksa bertelur terlalu dini, atau stimulasi kematangan seksual terlalu dini sebelum kedewasaan tubuhnya tercapai. Biasanya dengan pemberian vitamin penstimulan telur atau pemberian pakan layer yang terlalu dini.

Penyebab Prolapsus

Kejadian prolapsus bukan disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, strain ayam tertentu, namun lebih merupakan kesalahan management (miss management), terutama pada periode growing dan pre-laying (13-18 minggu). Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya prolapsus pada peternakan ayam petelur, antara lain:

1.    Pemberian stimulasi cahaya (photostimulasi) yang terlalu dini

Cahaya diperlukan ayam petelur untuk menstimulasi kedewasaan kelamin. Penambahan pencahayaan diperlukan untuk membantu mempercepat ayam berproduksi. Namun, penambahan pencahayan hendaknya jangan terlalu dini. Penambahan pencahayaan hendaknya dilakukan saat organ reproduksinya benar-benar siap. Ayam yang mendapatkan penambahan cahaya sebelum organ reproduksinya benar-benar siap, cenderung mudah mengalami prolapsus, karena organ reproduksinya belum sempurna. Umumnya, penambahan cahaya mulai dilakukan saat pullet memasuki umur 18 minggu. Penambahan cahaya dilakukan secara bertahap setiap minggu ½-1 jam tiap minggunya. Ayam memerlukan cahaya sekitar 16 jam tiap harinya.

2.    Ayam yang terlalu gemuk atau terlalu kurus.

Kondisi ayam yang terlalu gemuk, secara umum perototannya lebih lemah dan cenderung bertelur lebih besar. Lemak yang terlalu banyak disekitar organ reproduksi juga menghambat proses peneluran. Namun, di sisi lain, ayam yang terlalu kurus (berdasarkan standar strain) biasanya mendapatkan perlakuan yang sama dalam satu kandang/flock, termasuk stimulasi cahaya dan perlakuan pakan. Akibatnya kelompok ayam ini cenderung dipaksa bertelur sebelum organ reproduksinya siap.

3.    Kandungan nutrisi pakan yang tidak seimbang.

Nutrisi pakan digunakan antara lain dibutuhkan ayam untuk hidup pokok, produksi dan memelihara kesehatan. Ketidakseimbangan unsur nutrisi tentunya akan mengakibatkan berbagai masalah pada ayam seperti produksi yang tidak optimal, penyakit, maupun gangguan produksi lainya seperti prolapsus.

Salah satu nutrisi yang diperlukan ayam adalah kalsium. Kalsium dalam tubuh, selain berfungsi untuk pembentukan tulang dan kerabang, juga berfungsi dalam perkembangan perototan. Perkembangan perototan yang jelek akan berakibat pada terhambatnya proses penarikan kembali oviduct yang keluar pada saat ayam bertelur. Semakin lama dan panjang saluran oviduct yang keluar, semakin besar kemungkinan dipatuk oleh ayam lain, dan dapat menimbulkan kerusakan yang permanen. Dengan demikian, perlu dievaluasi kandungan calcium pakan yang dapat diserap oleh ayam.

4.    Usia reproduksi.

Prolaps cenderung lebih sering terjadi pada awal produksi, puncak produksi (HD) dan puncak egg mass, karena pada kondisi ini dituntut tingkat metabolism yang tinggi.

5.    Telur double yolk (kuning telur ganda).

Double yolk mengakibatkan telur ayam berukuran terlalu besar. Ukuran telur yang ekstra besar meregangkan dan melemahkan otot kloaka. Lemahnya otot kloaka akan memperlama oviduct untuk berada di luar tubuh.


Pencegahan dan Penanganan

Penanganan kejadian prolapsus dipeternakan dapat dilakukan dengan melakukan perubahan pada management pemeliharaan. Untuk menurunkan kejadian prolapsus perlu dilakukan secara hati-hati, karena berkaitan dengan factor lain yang mungkin kontra produktif. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

Pencegahan:

a.    Pemberian cahaya tambahan (photostimulasi) harus dilakukan pada saat ayam telah mencapai berat badan dan umur yang direkomendasikan oleh masing-masing strain. Pencahayaan untuk masa layer sebaiknya diberikan selama 16 jam, yaitu12 jam dari sinar matahari dan 4 jam dari cahaya lampu dengan intensitas 20-40 lux.
b.    Diperlukan ransum pakan yang seimbang untuk mempertahankan produksi telur dan menjaga berat badan pada tingkat yang direkomendasikan. Berikan ransum dengan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam, terutama kandungan energi metabolisme dan protein (asam amino) untuk setiap periodenya. Pada periode grower lebih rendah dibanding pada pemeliharaan periode starter dan layer.
c.    Intensitas cahaya di kandang, perlu diperhatikan. Pertimbangkan untuk mengurangi intensitas cahaya dengan mengganti lampu dengan daya yang lebih rendah jika terjadi kejadian prolapsus.
d.    Cegah terjadinya doulbe yolk dengan memberikan pakan sesuai rekomendasi dari tiap-tiap starin. Jika tingkat double yolk cukup tinggi (4% atau lebih) batasi feed intake secara perlahan, 5-10%, dibawah kemampuan makannya.
e.    Segera pisahkan ayam yang kanibal dari kelompoknya karena ayam seperti ini akan sangat agresif mematuk jika terjadi prolapsus.
f.     Pertimbangkan untuk menggunakan lampu warna merah dengan daya yang rendah, agar ayam tidak bisa membedakan warna darah.
g.    Lakukan kontrol bobot badan secara rutin dan ketat mulai pada masa pullet, setidaknya 1 minggu sekali dengan jumlah sampel minimal 100 ekor per kandang. Bobot badan pullet dikatakan sesuai standar jika ± 10% dari standar bobot badan yang dikeluarkan breeder (manual guide). Selain bobot badan, keseragaman bobot badan juga harus diperhatikan. Keseragaman yang baik yaitu lebih dari 80%. Saat bobot badan ayam tidak sesuai standar, maka perlu segera dilakukan treatment (penanganan) sehingga bobot badan bisa sesuai dengan standar kembali.
h.    Jaga kondisi farm agar nyaman untuk pemeliharaan ayam, seperti tersedianya ventilasi udara yang cukup agar sirkulasi udara lancar sehingga kandang tidak terlalu panas/pengap. Selain itu, agar oksigen tersedia dalam jumlah cukup. Hindari juga hal-hal yang menyebabkan ayam stres agar BB ayam tetap konsisten sesuai standar

Penanganan:

a.    Culling atau afkir ayam yang telah mengalami kasus prolapsus tersebut, karena sudah tidak produktif lagi. Ayam yang telah mengalami prolapsus, segera dipisahkan dari kelompoknya. Berikan antiseptic pada daerah yang terluka, kemudian dengan menggunakan jari tangan, secara perlahan-lahan dorong saluran oviduct yang keluar agar kembali ke posisinya.

b.    Jika umur ayam masih dalam kategori produktif, seleksi ayam-ayam dengan berat badan melebihi standar. Tinjau formulasi ransum atau kurangi jumlah pemberian ransum
Tag : Artikel, Layer
0 Komentar untuk "MENGATASI PROLAPSUS DI PETERNAKAN AYAM PETELUR"
Back To Top