image PETERNAKAN SAPI TANPA RUMPUT. MUNGKINKAH? - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

PETERNAKAN SAPI TANPA RUMPUT. MUNGKINKAH?


Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan pangan juga mengalami peningkatan. Kebutuhan pangan yang dibutuhkan adalah bahan pangan yang memiliki kandungan gizi tinggi. Dengan terpenuhinya gizi masyarakat maka akan menghasilkan manusia yang berkualitas. Artinya pertambahan jumlah penduduk juga secara otomatis akan mengakibatkan permintaan akan bahan makanan yang memiliki nilai gizi tinggi juga akan semakin meningkat dan salah satu sumber gizi dapat diperoleh dari produk peternakan termasuk kebutuhan daging.

Berdasarkan kajian oleh Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia (LSPPI), sektor peternakan nasional baru mampu menopang 61% kebutuhan daging dalam negeri. Hasil analisis tenyata jumlah ternak sapi dan kerbau yag dipotong pada tahun 2011 diprediksi hanya 1,861juta ekor. Berdasarkan analisis sederhana pada tahun 2011, produksi dalam negeri baru baru bisa memasok  61,88% kebutuhan daging. Sisanya, pasokan daging dibantu oleh impor sapi bakalan 18,75 %  dan impor daging 19,37 %,”.

Kondisi tersebut menunjukan usaha peternakan sapi potong masih sangat potensial untuk dikembangkan. Salah satu usaha peternakan yang selama ini menjadi primadona adalah penggemukan sapi potong. Usaha penggemukan memiliki keuntungan ganda, yaitu keuntungan diperoleh dari usaha penggemukan itu sendiri dan keuntungan dari kotoran yang dihasilkan. Namun, potensi tersebut bukan tanpa kendala. Kendala utama dalam usaha penggemukan sapi ptotong adalah masalah ketersediaan pakan. Selama ini, peternak masih tergantung dari rumput alam sebagai pakan sedangkan keberadaan rumput alam (rumput yang tersedia di alam tanpa ditanam) sangat tergantung pada musim, dimana pada musim penghujan jumlahnya relatif banyak namun sebaliknya pada musim kemarau sangat susah untuk didapatkan. Hal tersebut belum termasuk semakin berkurangnya tanah kosong (pengangonan) yang beralih fungsi menjadi perumahan. Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan konsep peternakan sapi tanpa rumput. Peternakan sapi tanpa rumput memiliki keunggulan antara lain:

A.   Lebih Efisien dalam Penggunaan Lahan
Untuk membudidayakan rumput unggul (rumput gajah, raja dll.) membutuhkan lahan yang cukup luas. Sebagai ilistrasi, untuk memelihara satu ekor sapi saja paling tidak membutuhkan lahan 500 m2 khusus untuk kebun rumput belum ditambah biaya untuk membeli konsentrat jadi yang kisaran harganya Rp.2.000-3.000 per kg. Kebutuhan konsentrat per hari per ekor sapi berkisar 4-6 kg. Padahal agar usaha penggemukan layak dikembangkan, jumlah sapi minimal yang harus digemukkan adalah 6 ekor. Berarti lahan yang harus disediakan khusus untuk kebun hijauan adalah 3.000 m2  dan biaya konsentrat Rp8.000-Rp18.000 per hari tergantung jenis, bobot dan target pertambahan bobot badan sapi.  

Bagi peternak pemula dengan modal yang tidak terlalu besar rasanya hal tersebut sangat memberatkan. Kondisi tersebut merupakan salah satu sebab mengapa selama ini peternak di pedesaan umumnya tingkat kepemilikan ternaknya 1-3 ekor saja.  Kondisi ini bisa dipecahkan dengan jalan “rekayasa” terhadap pakan, yaitu degan penggemukan sapi potong tanpa rumput. Maksudnya adalah bukan sama sekali “menjauhkan” sapi dari rumput, namun rumput bukan lagi sebagai pakan utama yang harus ada tetapi penggunaan rumput  sebagai pakan sangat minimal sesui dengan ketersediaanya. Dengan demikian, penggunaan lahan khusus untuk menanam rumput bisa ditiadakan. Artinya penggunaan lahan lebih efisien karena lahan hanya dibutuhkan untuk kandang dan pendukungnya saja. Pakan yang digunakan dalam penggemukan sapi potong adalah bahan pakan yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan dan limbah agroindustri. Sistem ini tentunya harus sesuai dengan ketersediaan bahan pakan yang ada di daerah setempat.


B.   Menjamin Ketersediaan dan Kontinyuitas Bahan Pakan

Peternakan sapi yang memanfaatkan potensi pakan lokal (sesuai daerah setempat) tentunya akan lebih menjamin ketersediaan dan kontinyuitas bahan pakan karena tidak sepenuhnya tergantung musim asalkan bahan pakan tersebut dikelola dengan cara-cara yang benar. Karena ketersediaan bahan pakan sudah tidak lagi tergantung musim tetapi dengan “memanfaatkan” musim untuk mendapatkan limbah pertanian sesuai musim tanamnya.

Pada musim hujan dimana terjadi musim tanam padi maka peternak dapat memanfaatkan jerami padi sebagai bahan pakan utama bahkan jika berlebih bisa disimpan sebagai cadangan pada musim kemarau. Di musim kemarau, dimana petani beralih menanam jagung atau kacang-kacangan maka peternak bisa memanfaatkan jerami jagung dan kacang-kacangan sebagai pakan pada usaha penggemukan sapinya. Namun meskipun demikian, jika memang modal ada dan lahan memang tersedia pembuatan lahan hijauan akan lebih baik karena akan lebih menjamin ketersediaan dan kontinyuitas pakan.

Disamping limbah pertanian, untuk mencukupi kebutuhan nutrisi sapi dapat dimanfaatkan limbah agroindustri (limbah pengolahan hasil pertanian) seperti molases, onggok, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak padi, kulit kopi, kulit kakao dan lain sebagainya sebagai bahan pembuat konsentrat. Jadi peternak bisa menyusun sendiri konsentrat sapi sesuai dengan bahan yang ada di daerah setempat dan tidak harus membeli konsentrat jadi.

C.   Dapat Meningkatkan Keuntungan

Penggemikan sapi tanpa rumput akan lebih berjalan dengan baik jika menerapkan pola Integrated Farming SistemIntegratet Farming Sistem dapat diartikan penggabungan atau pembaruan dua bagian atau kegiatan dibidang pertanian dan perkebunan dengan peternakan menjadi satu kesatuan utuh yang saling terkait dan bisa saling menguntungkan. Sistem ini dilaksanakan dengan menyinergikan usaha peternakan dengan tanaman pangan dan perkebunan. Selain mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat pola Integratet Farming Sistem merupakan solusi terbaik untuk mengatasi problem limbah peternakan. Ini merupakan sistem yang sangat efisien dan mempunyai banyak nilai tambah.

Konsep budidaya peternakan yang terintegrasi adalah mengubah limbah pertanian dan perkebunan menjadi pakan ternak yang cukup potensial serta mengubah limbah peternakan menjadi sumber daya hara bagi tanaman guna mencapai keadaan zero waste dan peternakan ramah lingkungan. Tujuanan akhir dari sistem integrasi adalah dapat mengurangi biaya produksi sehingga dapat meningkatkan keuntungan.

Dalam usaha peternakan sapi potong, kotoran sapi dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair, bio gas, dan lain sebagainya. Kotoran sapi dapat digunakan untuk pemupukan usaha pertanian serta menjadi sumber energi bagi manusia berupa produk gas. Untuk itu, peternakan harus dikelola secara terencana dan tertata sehingga menghasilkan keterpaduan dengan unit yang lain. Pola peternakan terpadu merupakan konsep pertanian yang berorientasi masa depan, berwawasan lingkungan, bernilai sosial, efisien, dan memiliki produktifitas tinggi serta menghasilkan nilai ekonomi. Dengan demikian, bukan hanya peternak sapi saja yang menikmati, tetapi masyarakat petani yang selama ini berkutat pada sistem budidaya konvensional dapat diberdayakan sehingga alih teknologi demi efisiensi, efektifitas dan produksi yang optimal dapat tercapai.

Sebenarnya sebagian peternak telah menerapkan pola integrasi tanaman pertanian dengan ternak sapi. Namun, karena masih menerapkan teknologi tradisional maka produktivitas dan efisiensi yang diperoleh belum optimal. Dengan sentuhan teknologi maju akan dapat meningkatkan pendapatan peternak secara nyata baik dari tanaman pangan dan perkebunan maupun dari ternak sapi.

Berdasarkan kondisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penggemukan sapi potong tanpa rumput dapat memberikan keuntungan antara lain:
1.    Meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bahan pakan seta ekonomis berupa penurunan biaya pakan ternak
2.    Meningkatkan produktivitas ternak (penambahan bobot badan yang optimal) karena terpenuhinya asupan nutrisi bagi ternak dari pengolahan bahan pakan dengan menggunakan inovasi teknologi sehingga meningkatkan kualitas pakan
3.    Meningkatkan pendapatan peternak sebagai akibat meningkatnya efisiensi dan produktivitas usaha penggemukan.
4.    Terbentuknya peluang sumber pendapatan dan lapangan kerja baru, seperti pengolahan limbah pertanian dan perkebunan serta limbah ternak
5.    Tersedianya pakan ternak secara kontinyu baik kualitas maupun kuantitasnya.
Tag : Artikel, Sapi
0 Komentar untuk "PETERNAKAN SAPI TANPA RUMPUT. MUNGKINKAH?"
Back To Top