image PEMELIHARAAN AYAM BROILER, MANDIRI ATAU KEMITRAAN? - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

PEMELIHARAAN AYAM BROILER, MANDIRI ATAU KEMITRAAN?

PEMELIHARAAN AYAM BROILER, MANDIRI ATAU KEMITRAAN?



Komoditas ayam broiler mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim, kolesterol relatif lebih rendah sehingga relatif aman bagi penderita hipertensi, harga relatif murah (dibandingkan daging sapi maupun kambing) dengan akses yang mudah diperoleh karena sudah menyebar diseluruh wilayah tanah air. Disamping itu, komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani nasional, sehingga peluang yang baik ini menjadi lebih terbuka. Namun, sebagai salah usaha yang bergerak dalam aspek budidaya, ternak broiler memiliki resiko yang cukup besar. Resiko dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti performance ayam, harga jual ayam yang fluktuatif (bahkan terkadang berada di bawah harga BEP), lingkungan sosial dan aspek non teknis.
Kondisi pemeliharaan ayam broiler yang padat modal dan beresiko tersebut, menyebabkan perkembangnya beberapa pola/sistem broiler. Secara garis besar terdapat beberapa 3 sistem usaha pemeliharaan ayam broiler yang berkembang di masyarakat, yaitu mandiri, semi mandiri dan kemitraan.  Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.



1.    Sistem Mandiri

Sistem mandiri adalah sistem usaha beternak broiler dengan modal sepenuhnya ditanggung peternak. Peternak menyediakan kandang, peralatan, tenaga kerja dan sarana produksi ternak (DOC, pakan, dan OVK) serta memasarkan sendiri ternaknya baik ternak hidup maupun dalam bentuk karkas (daging).
Keunggulan dari sistem ini adalah keuntungan bisa lebih maksimal karena harga sapronak bisa lebih murah. Peternak bebas memilih jenis sapronak yang diinginkan seperti strain DOC, merk pakan dan OVK sehingga kualitasnya juga bisa lebih terjamin (tergantung kondisi permodalan). Harga jual ayam juga bisa lebih tinggi karena biaya pemasaran lebih rendah. Agar bisa menjalankan usaha broiler dengan sistem mandiri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

a.    Kekuatan modal
Sebelum memutuskan beternak broiler dengan sistem mandiri, modal harus dipersiapkan terlebih dahulu meliputi biaya sewa atau membuat kandang, pembelian sapronak, serta biaya operasional yang jumlahnya cukup besar. Jangan sampai usaha berhenti di tengah jalan karena kekurangan modal.
  
b.    Keterampilan beternak
Keterampilan beternak juga mutlak harus sudah dikuasai. Baik atau buruknya performance ditanggung sendiri sebab tidak ada bimbingan dari ahlinya seperti halnya pada sistem kemitraan. Dengan demikian, taruhannya adalah modal yang telah dikeluarkan. Bisa jadi modal habis bahkan tidak kembali jika performan broiler buruk. Keterampilan beternak juga mutlak harus dikuasai untuk mencegah peternak dicurangi pekerja kandang atau anak kandang.

c.    Kemampuan memasarkan (Pengetahuan tentang pasar)
Pemasaran berupakan bagian penting dalam rangkaian beternak broiler. Percuma beternak mandiri jika produk yang dihasilkan tidak dapat dijual. Ujung-ujungnya adalah kerugian. Sesuaikan jumlah ternak yang dipelihara dengan kemampuan penjualan. Waktu panen yang terlalu lama dapat mengakibatkan performance ayam turun karena proses panen dapat menyebabkan kondisi ayam drop karena stress sehingga dapat mengganggu pertumbuhan bahkan penurunan bobot badan.

d.    Jaringan bisnis
Membangun jaringan bisnis diperlukan untuk memperlancar proses persiapan produksi, produksi dan pemasaran. Jaringan bisnis yang dapat dibangun antara lain dengan suplayer DOC, pakan, OVK dan para tengkulak, broker atau penjual ayam. Semakin banyak dan kuat jaringan seakin mudah menjalankan usaha. Jangan sampai usaha dijalankan tapi belum tau dimana mendapatkan sapronak yang murah, kemana saja menjual ayam, ukuran ayam yang diterima pasar setempat dan sebagainya sehingga biaya produksi menjadi tidak efisien.


2.    Sistem Semi Mandiri

Sistem semi-mandiri merupakan sistem beternak broiler yang modal, proses produksi, dan pemasaran tidak sepenuhnya dilakukan sendiri oleh peternak tetapi ada beberapa unsur yang dibantu pihak lain sesuai dengan keinginan dan kemampuan peternak dengan perjanjian tertentu. Jadi, yang membedakan dengan sistem mandiri adalah ada unsur kerja sama antara peternak dengan perorangan atau perusahaan yang bergerak dalam usaha pengadaan sapronak dan pemasaran hasil seperti Poulty Shop atau perusahaan atau toko yang menjual sapronak unggas.
Contoh, peternak membeli DOC, OVK (obat dan vaksin), dan sebagian pakan (misal sampai umur 14 hari) dengan modal sendiri atau dibeli secara cash. Sementara itu, kekurangan pakan (15 hari sampai panen) dibantu pihak kedua (perorangan atau poultry shop) sedangkan untuk pemasaran ayam dapat dilakukan sendiri atau dibantu oleh pihak kedua ke dua tersebut. Hutang pakan (pakan yang belum di bayar)  akan dibayar setelah panen selesai.
Keunggulan dari sistem ini adalah modal yang dikeluarkan ke dua belah pihak tidak terlalu besar. Sedangkan resikonya bagi peternak adalah kerugian ditanggung sendiri sedangkan resiko dari pihak ke dua adalah jika peternak melakukan kecurangan tidak melakukan kewajibanya membayar utang pada saat rugi. Untuk itu, biasanya sistem ini hanya dilakukan pada orang-orang yang sudah bener-benar dipercaya atau peternak harus menyimpan jaminan dengan jumlah tertentu kepada pihak kedua.

3.    Sistem Kemitraan

Sistem kemitraan ayam broiler dapat diartikan sebagai kerjasama dalam bidang budidaya ayam broiler antara 2 pihak, yaitu perusahaan inti dengan peternak plasma. Bentuk kerja sama yang umum dilakukan adalah perusahaan inti (dibeberapa daerah dilakukan oleh poultry shop) bertindak sebagai penyedia sapronak (DOC, Pakan, Vaksin dan Medikasi) sedangkan peternak plasma bertanggung jawab melaksanakan kegiatan budidaya hingga menjadi ayam broiler yang siap dipanen.
Prinsip dasar kemitraan adalah kerja sama saling menguntungkan, karena pada hakekatnya kedua belah pihak saling membutuhkan. Pihak perusahaan inti memperoleh keuntungan dari penjualan sapronak dan pihak mitra memperoleh modal dam bentuk kredit sapronak.
Sejak mulai maraknya sistem kemitraan kurang lebih akhir tahun 1998, pola kemitraan juga mengalami perkembangan. Ada beberapa pola kemitraan yang sampai saat ini berkembang di masyarakat, yaitu kemitraan sistem kontrak, sistem bagi hasil dan sistem maklun.

1)   Sistem kontrak

Konsep kemitraan dengan sistem kontrak atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sistem kemitraan adalah perusahaan inti berkewajiban menyediakan sapronak (pakan, DOC, dan OVK) dan tenaga pembimbing teknis (PPL, Dokter Hewan, dll.) dan peternak yang bertindak sebagai mitra berkewajiban menyediakan kandang, peralatan, operasional dan tenaga kerja. Kerjasama tersebut dituangkan dalam dokumen kontrak yang disepakati ke dua belah pihak. Isi dokumen kontrak tersebut antara lain adalah kontrak harga sapronak, harga jual ayam, bonus prestasi dan SOP atau aturan main kerja samanya.  Jadi, sebelum dimulainya usaha budidaya broiler, terlebih dahulu harus disepakati kontraknya oleh kedua belah pihak secara tertulis.
Keuntungan dari sistem kontrak adalah peternak, selain mendapat bantuan modal kredit sapronak dan bimbingan teknis, juga mendapat jaminan pemasaran dan kepastian harga ayam. Peternak hanya fokus dalam budidaya sehingga harus berusaha semaksimal mungkin performance optimal karena tidak memikirkan fluktuasi harga. Ketika harga jauh di bawah harga kontrak, yang di pakai dalam perhitungan laba rugi adalah harga kontrak.
Kelemahan sistem kontak adalah keuntungan peternak relatif lebih tipis sebab ada tambahan harga sapronak (untuk keuntungan inti) dan ketika harga diatas nilai kontrak, harga ayam dalam perhitungan rugi laba tetap menggunakan harga kontrak yang berlaku, meskipun biasanya ada kebijaksanaan dari inti (tergantung kesepakatan/kontrak awal)    
Namun, realisasi di lapangan dalam satu tahun tidak selamanya keduanya memperoleh keuntungan. Bisa jadi ketika inti memperoleh keuntungan (dari penjualan sapronak dan selisih harga pasar), mitra mengalami kerugian. Sebaliknya, ada kalanya mitra untung sedangkan inti mengalami kerugian. Untuk itu, hendaknya antara mitra dan inti bisa saling memahami satu sama lain sehingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan karena adakalanya untung dan adakalanya rugi baik pihak inti maupun plasma.
Perusahaan inti bisa mengalami kerugian jika:
a.    Harga pasar ayam broiler hidup jatuh jauh dibawah harga pokok produksi inti. Pihak inti tidak bisa menurunkan harga garansi karena inti sudak terikat perjanjian kontrak harga sebelum proses pemeliharaan dimulai.
b.    Peternak mitra berbuat curang dengan memanipulasi hasil panen, menjual ayam tanpa sepengetahuan pihak inti dan memakai sebagian sapronak dari luar (bukan dari inti sesuai dengan perjanjian)
c.     Peternak tidak mau membayar hutang pada saat mengalami kerugian yang menimbulkan adanya hutang dari mitra kepada inti.

Mitra akan mengalami kerugian jika:
a.     Performance ayam jelek (karena sakit, pertumbuhan tidak optimal, dan sebagainya) sehingga hasil penjualan ayam tidak bisa menutupi hutang sapronak. Selisih antara biaya sapronak dan penjualan ayam ditambah adalah kerugian peternak yang harus dilunasi ke pada pihak inti. Selain itu, mitra juga rugi dari biaya operasional yang telah terpakai.
b.     Terjadi pencurian atau bencana lain yang disebabkan kelalaian peternak mitra. Untuk kejadian yang disebabkan kelalaian, pihak mitra tetap berkewajiban membayar hutang sapronak kepada inti.

Ada beberapa kondisi yang mengakibatkan kerugian pada kedua belah pihak, baik inti maupun pasma, yaitu:
a.    Terjadinya force major, seperti gempa bumi, banjir bandang yang menyebabkan semua atau sebagian besar ayam mati. Biasanya dalam keadaan force major, mitra tidak berkewajiban membayar kerugian. Sehingga kedua-duanya rugi, baik mitra yang rugi biaya operasional dan perusahaan inti rugi karena sapronak yang telah dikeluarkan tidak dibayar. Ketentuan ini biasanya sudah dituangkan dalam pasal di dalam perjanjian kerja sama yang telah disepakati bersama.
b.    Kondisi ayam sakit, sehingga harga jual ayam jauh dibawah dari harga kontrak. Bagi inti, meskipun ada perjanjian potong harga jika ayam sakit terkadang besarnya potongan belum bisa menutupi kerugian. Bagi mitra, kondisi ayam sakit (dimana FCR membengkak) mengakibatkan penjualan ayam tidak bisa menutup hutang sapronak sehingga menimbulkan hutang.

Meskipun setiap perusahaan inti atau poultry shop punya SOP masing-masing, tetapi model konsep SOP kerjasama kemitraan yang umum digunakan adalah  sebagai berikut:
a)   Perusahaan inti bertanggung jawab untuk menyediakan sarana produksi seperti DOC, Pakan, OVK (obat, vaksin dan vitamin) yang selanjutnya diserahkan kepada peternak plasma.
b)   Peternak plasma bertanggung jawab untuk menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta perlengkapannya termasuk biaya operasional maupun tenaga kerja untuk melakukan pemeliharaan ayam broiler, pemeliharaan atas sapronak yang disediakan oleh perusahaan inti.
c)   Peternak plasma tidak diperkenankan menggunakan tambahan sapronak di luar yang sudah tertuang di perjanjian yang sudah di sepakati.
d)   Perusahaan inti berkewajiban untuk memasarkan kembali seluruh hasil panen dari sapronak yang dibudidayakan oleh peternak plasma tersebut dengan harga jual yang telah disepakati kedua belah pihak.
e)   Status sapronak yang didapat oleh peternak plasma adalah hutang dari perusahaan inti dengan diterapkannya harga beli kontrak. Sedangkan status ayam yang dipanen adalah piutang peternak plasma kepada perusahaan inti dengan diterapkannya harga jual bergaransi.

2)   Sistem Bagi Hasil

Kemitraan dengan sistem bagi hasil adalah suatu bentuk kemitraan dimana inti menyediakan sapronak dan peternak mitra menyediakan kandang, operasional, dan tenaga kerja. Pemasaran dilakukan oleh inti ataupun bersama-sama tergantung kesepakatan.
Perbedaan dengan sistem kontrak adalah bahwa harga sapronak pada sistem bagi hasil didasarkan pada harga pasar actual (harga eceran tertinggi). Pembagian keuntungan dihitung dari hasil penjualan ayam sesuai harga pasar dikurangi biaya yang dikeluarkan kedua belah pihak. Besarnya prosentase keuntungan di tentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Jika mengalami kerugian, ke dua belah pihak juga menanggung kerugian secara bersama-sama sesuai kesepakatan.
Keuntungan sisitem ini adalah adanya rasa tanggung jawab dari kedua belah pihak, pihak inti memperoleh keuntungan dari penjualan sapronak dan pihak mitra mendapat pinjaman modal berupa sapronak, dan bantuan pembinaan teknis pemeliharaan.
Kelemahan sistem ini adalah rawan adanya ketidakjujuran terutama masalah biaya yang telah dikeluarkan. Peternak mitra turut menanggung kerugian jika harga jual di bawah harga pokok produksi. Keuntungan relatif lebih kecil karena ada pembagian hasil.

3)   Sistem Makloon

Sistem makloon disebut juga sistem manajemen fee. Sistem ini berkembang pesat di daerah priangan timur seperti Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar. Konsep sistem maklun adalah kerjasama antara inti dan plasma dimana inti menyediakan sapronak dan plasma menyediakan kandang, bahan operasional pemeliharaan dan tenaga kerja. Besar kecilnya keuntungan bagi mitra dibayar berdasarkan IP (Indeks Produksi) yang ditetapkan oleh inti yang dihitung per ekor ayam yang terpanen. Segala sesuatu ditentukan oleh inti baik jenis DOC, Pakan, dan waktu panen. Plasma tidak diperbolehkan menjual ayam sendiri karena pada prinsipnya ayam adalah milik plasma.

Kelebihan sistem ini adalah peternak plasma tidak menanggung kerugian sama sekali (tidak wajib membayar hutang) kecuali kerugian yang diakibatkan oleh biaya operasional yang telah dikeluarkan. Kerugiannya adalah keuntungan bisa dibilang sangat tipis bahkan bisa rugi operasional jika IP yang dihasilkan dibawah standar.
Bagi Inti keuntungannya adalah biaya operasional pemeliharaan relatif kecil karena keuntungan yang harus dibayarkan sebagai kompensasi pemeliharaan dihitung berdasarkan IP. Kerugiannya adalah segala kerugian ditanggung oleh pihak inti. Termasuk kerugian akibat kenakalan plasma yang menjual ayam tanpa sepengetahuan inti.

Dengan mengetahui sistem pemeliharaan ayam broiler di atas kini, tinggal keputusan anda yang menentukan mana yang sesuai dengan kemampuan anda, mandiri atau kemitraan?....
Tag : Artikel, Broiler
0 Komentar untuk "PEMELIHARAAN AYAM BROILER, MANDIRI ATAU KEMITRAAN?"
Back To Top