image MENGATASI GEJOLAK SOSIAL DI PETERNAKAN AYAM SEJAK DINI - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

MENGATASI GEJOLAK SOSIAL DI PETERNAKAN AYAM SEJAK DINI

MENGATASI GEJOLAK SOSIAL DI PETERNAKAN AYAM SEJAK DINI


Lokasi kandang usahakan jauh dari pemukiman penduduk  


Masalah sosial merupakan masalah yang terkadang terlupakan oleh peternak dalam mendirikan peternakan, termasuk peternakan ayam. Umumnya, peternak hanya fokus pada hal-hal teknis saja seperti model kandang, bahan kandang, konstruksi kandang dll. Padahal, masalah sosial adalah masalah yang sangat penting yang harus dipertimbangkan sebelum muncul gejolak sosial dikemudian hari.

Masalah performa ayam bisa diatasi dengan dengan menggunakan bibit, pakan dan manajemen pemeliharaan yang baik. Tetapi bagaimana dengan masalah sosial yang melibatkan banyak orang atau masyarakat? bayangkan, jika peternakan sudah didirikan dengan investasi yang besar tetapi di kemudian hari ternyata “didemo” warga sekitar? Tentunya hal ini menjadi sangat serius karena berhubungan dengan investasi yang besar dan kelanjutan usaha. Terkadang ada saja alasan penolakan dari warga masyarakat sekitar seperti bau yang tidak enak, mengganggu kesehatan, banyak lalat, merusak jalan dan sebagainya. Untuk itu, penanganan terhadap masalah sosial ini harus dicegah sejak dini sebelum usaha didirikan.

Usaha pencegahan dini masalah sosial tersebut dalap dilakukan antara lain dengan mengurus izin usaha, jarak kandang dari pemukiman, sistem perkendangan yang tepat, penanganan limbah, melibatkan masyarakat sekitar, dan memberikan CSR (Corporat Social Responsibility)

Memiliki Izin Usaha

Usaha Peternakan sebaiknya memiliki perizinan yang lengkap mengikuti peraturan daerah setempat. Semua itu bermula dari pemilihan lokasi yang disesuaikan dengan peruntukanya, seperti yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Lokasi tersebut disesuaikan dengan rancangan umum tata ruang (RUTR) yang ditetapkan pemda setempat, sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.  

Jarak Kandang dari Pemukiman

Jarak kandang dengan pemukiman diatur untuk mengurangi dampak negatif usaha peterenakan terhadap masyarakat. Mengenai jarak kandang dengan permukiman, telah tertuang di dalam Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/OT.5/2008 tentang Pedoman Penataan Kompartemen dan Penataan Zona Usaha Perunggasan. Selengkapnya mengenai Permentan No.28/Permentan/OT.5/2008 dapat di dowload di sini   

Sistem Perkandangan

Sistem perkandangan yang baik akan mengurangi dampak negatif adanya peternakan ayam dilokasi setempat. Sistem perkendangan yang baik meliputi manajemen kandang yang baik, seperti  kebersihan kandang. Kandang yang bersih akan mengurangi adanya lalat di sekitar peternakan ayam. Biasanya awal mula komplain masyarakat sekitar kandang dipicu banyaknya lalat di rumah-rumah warga. Untuk itu, masalah lalat harus beber-benar diperhatikan antara lain dengan menjaga sanitasi yang meliputi disinfeksi dan kebersihan kandang. Selain itu, sanitasi yang baik akan menghindarkan masuknya bibit penyakit yang berbahaya ke dalam kandang salah satunya flu burung (AI). Penyakit ini bersifat zoonosis atau bisa menular kepada manusia sehingga jika muncul penyakit ini dilokasi peternakan ayam dapat memicu kepanikan masyarakat.


Kandang closed house pada ayam petelur

Selain itu, dengan berkembangnya teknologi pemeliharaan ayam sekarang ini ada solusi lain yang ditawarkan, yaitu dengan mendisain kandang dengan sistem cloused house atau kandang sistem tertutup baik pada ayam petelur maupun pedaging. Dengan sistem ini pencemaran dari peternakan terutama bau dan lalat dapat diminimalkan. Namun, ini membutuhkan investasi yang cukup besar.

Penanganan Limbah

Seperti telah dijelaskan sedikit di atas, limbah peternakan merupakan salah satu yang sering memicu konflik masyarakat sekitar. Limbah peternakan yang paling utama adalah feses atau kotoran ayam. Feses harus di kelola dengan baik. Jangan biarkan feses basah di sekitar kandang karena dapat menjadi bau dan sarang berkembangnya lalat. Bersihkan feses minimal satu minggu sekali (ayam petelur) dan segera di singkirkan dari lokasi kandang atau jika mau dimanfaatkan untuk kompos, lindungi kotoran agar tidak basah dan beri dekomposer agar proses pengomposan berjalan cepat. Selain feses, bangkai ayam juga menjadi masalah. Untuk itu, bangkai ayam jangan dibiarkan terlalu lama. Segera bakar bangkai ayam kemudian segera dikuburkan.

Melibatkan Masyarakat Sekitar dalam Peternakan

Melibatkan masyarakat dalam usaha peternakan kita merupakan salah satu solusi mengurangi masalah sosial. Contohnya adalah dengan melibatkan warga dalam pembangunan kandang antara lain dengan membeli bahan kandang dari warga sekitar, mempekerjakan warga dalam pembangunan kandang, menggunakan tukang pikul ayam dari warga, atau merekrut tenaga kandang dari daerah sekitar tentunya jika memenuhi kualifikasi atau kriteria yang kita tetapkan.

Tukang pikul ayam bisa melibatkan masyarakat sekitar

Memberikan Corporat Social Responsibility (CSR)

Ada beberapa program CSR atau kepedulian sosial yang dapat diterapkan misalnya dalam bentuk bantuan pendidikan bagi warga sekitar, bantuan gizi, rehabilitasi bangunan sekolah, pembangunan tempat ibadah, perbaikan jalan, bantuan hari besar keagamaan dan bantuan sarana olahraga bagi karangtaruna/pemuda di lingkungan kandang. Jenis dan besarnya biaya CSR di sesuaikan dengan kemampuan peternak/perusahaan biasanya sekitar 0,5-2% dari pengeluaran perusahaan. Tiap daerah berbeda-beda tergantung karakter masyarakat dan resiko usaha ya ng ditimbulkanya. Biasanya semakin jauh lokasi peternakan dari pemukiman warga, biaya CSR juga lebih kecil karena resiko adanya peternakan terhadap warga juga semakin kecil. Untuk itu, sosial cost harus diperhitungkan dalam usaha peternakan ayam.


0 Komentar untuk "MENGATASI GEJOLAK SOSIAL DI PETERNAKAN AYAM SEJAK DINI"
Back To Top