image KALENDER KAWIN PADA PETERNAKAN KAMBING DAN DOMBA - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

KALENDER KAWIN PADA PETERNAKAN KAMBING DAN DOMBA


  
Kambing dan domba merupakan ternak yang dapat menghasilkan anak 3 kali dalam dua tahun. Namun, terkadang di tingkat peternak kambing atau domba hanya mampu beranak 1 kali dalam 1 tahun. Hal tersebut disebabkan karena manajemem perkawinan belum dijalankan secara benar. Untuk mempermudah memantau perkawinan kambing atau domba bisa digunakan kalender kawin. Kalender kawin adalah catatan penanggalan yang berguna untuk menentukan waktu perkawinan, perkiraan hari lahir, waktu perkawinan setelah melahirkan dan waktu penyapihan penyapihan. Yang perlu diperhatikan dalam membuat kalender kawin adalah perkawinan induk muda, masa esterus (birahi), lama kebuntingan,dan waktu penyapihan.


Siklus Esterus

Pada hewan betina yang dewasa seksual dikenal adanya siklus reproduksi. Siklus reproduksi adalah siklus seksual yang terdapat pada individu betina dewasa seksual dan tidak bunting yang meliputi perubahan-perubahan siklik pada organ-organ reproduksi tertentu misalnya ovarium, uterus, dan vagina di bawah pengendalian hormon reproduksi. Siklus reproduksi meliputi antara lain siklus esterus, siklus ovarium, dan siklus menstruasi. Dalam bahan ajar ini hanya dibahas tentang siklus esterus.

Pada kebanyakan vertebrata dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan-hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun, sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu dengan kebuntingan.

Demikian juga dengan kambing betina hanya mau menerima pejantan jika dalam masa esterus atau birahi. Masa birahi adalah Periode dimana secara psikologis dan fisiologis hewan betina bersedia menerima pejantan. Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka hewan betina akan menolak.

Bila terjadi perkawinan diluar masa birahi maka tidak akan terjadi kebuntingan, oleh karena itu waktu perkawinan yang tepat akan menentukan terjadinya kebuntingan. Pada kambing betina masa birahi berlangsung selama 12-48 jam, sangat bervariasi antar induk. Ovulasi (pelepasan sel telur) terjadi 12-36 jam setelah birahi muncul, dan saat kawin paling tepat adalah setelah ovulasi berlangsung. Oleh karena itu, pada sistem perkawinan yang dilakukan secara terkontrol yaitu setiap individu induk telah diprogramkan atau ditetapkan untk dikawinkan dengan pejantan terseseleksi tertentu, maka apabila pada seekor induk birahi muncul pada pagi hari sebaiknya induk dikawinkan pada sore harinya, atau bila birahi timbul pada sore hari induk sebaiknya dikawinkan pada keesokan paginya. Pada sistem perkawinan kelompok dimana pejantan disatukan dalam kelompok betina, perkawinan dapat terjadi setiap saat, terutama 12-15 jam setelah tanda birahi muncul (setelah ovulasi). Perlu diingat bahwa masa hidup sel telur berkisar antara 12-24 jam, sedangkan masa hidup sperma didalam saluran reproduksi induk antara 24-48 jam. Oleh karena itu, terdapat waktu yang cukup panjang agar pembuahan sel telur oleh sperma dapat berlangsung dengan baik. Siklus birahi atau selang waktu antara dua birahi pada induk kambing berlangsung selama 18-22 hari.

Banyak tanda-tanda dapat diamati yang menunjukan timbulnya birahi pada seekor induk kambing. Menjelang masa birahi (pro-estrus) ternak lain sering mencoba menaiki induk, namun biasanya induk menunjukan reaksi penolakan. Namun, bila telah memasuki periode estrus (birahi) reasksi nduk biasanya tidak menolak, bila dinaiki oleh ternak lain dalam kelompoknya. Induk juga biasanya mengeluarkan suara yang khas seolah kelaparan atau kesakitan dan menggerakan ekor secara konsisten. Pada kebanyak induk organ vulva mengalami pembengkakan dan berwarna kemerahan. Beberapa induk sering mengeluarkan cairan dari vulva yang awalnya bening, namun berubah menjadi kental dan berwarna putih pada saat memasuki masa akhir birahi. Frekuensi urinasi (mengeluarkan air seni) akan meningkat dan bermaksud untuk menarik perhatian pejantan. Jika terdapat induk yang dalam masa birahi, pejantan biasanya menunjukan ‘rekasi Flehmen’ yaitu gerakan dengan menggulung/memutar kebelakng bibir bagian atas sambil mengangkat kepala dan mendengus. Reaksi ini umum terjadi pada binatang berkuku sebagai respon terhadap aroma khas yang berasal dari urin betina yang dalam masa birahi.

Pengamatan berulang/beberapa kali dalam sehari perlu dilakukan oleh peternak untuk memastikan apakah induk dalam masa birahi atau tidak. Hal ini penting artinya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi induk kambing. Jika terdapat induk atau beberapa induk yang tidak menunjukan gejala birahi yang jelas, maka dapat digunakan pejantan untuk memicu timbulnya birahi. Sebaiknya digunakan pejantan dewasa yang memiliki aroma khas. Umumnya, birahi yang timbul pada seekor induk dalam suatu kelompok setelah dicampur dengan pejantan akan memicu timbulnya birahi pada induk lain.
          
Perkawinan Induk Muda

            Masa produktif seekor induk dimulai saat terjadi perkawinan dengan pejantan yang subur. Penentuan umur kawin pada induk muda sering menjadi pertimbangan dalam pengelolaan induk. Namun, umur sebenarnya bukan satu-satunya faktor utama yang menentukan saat kawin yang optimal pada induk muda. Faktor lain yang sangat penting adalah bobot tubuh. Pada saat timbulnya birahi pertama kali pada induk muda, induk secara biologis sudah mau menerima pejantan. Oleh karena itu pada prinsipnya induk muda dapat dikawinkan pada umur 7 bulan saat tanda birahi pertama timbul. Namun sebaiknya perkawinan ditunda sampai induk mencapaibobot tubuh tertentu. Direkomendasian bahwa saat yang paling baik untuk pertama kawin adalah pada saat bobot tubuh mencapai 70-75% dari potensi bobot dewasa tubuhnya. Ada pengalaman bahwa perkawinan pertama kali induk muda pada bobot tubuh dan umur yang tidak optimal berpotensi memiliki jumlah anak sekelahiran yang tunggal selama masa produksinya. Perkawinan pertama pada umur muda atau bobot tidak optimal berpotensi menyebabkan induk melahirkan anak dengan bobot tubuh yang rendah pula atau induk tidak pernah mampu mencapai potensi bobot tubuhnya.
                Besaran bobot dewasa tubuh sangat tergantung kepada ras atau bangsa kambing. Oleh karena bobot tubuh berhubungan erat dengan umur, maka rekomendasi umur kawin pertama juga tergantung kepada bangsa kambing. Bangsa kambing dengan bobot tubuh besar, seperti kambing Boer biasanya dikawinkan pada umur yang lebih tua dibandingkan dengan bangsa kambing dengan ukuran tubuh kecil, seperti kambing Kacang. Pada kambing Boer misalnya, induk biasanya dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan atau lebih. Pada bangsa kambing Kacang induk muda biasanya dikawinkan pada umur 8-9 bulan atau saat mencapai bobot tubuh sekitar 14-16 kg.

Masa Kebuntingan

Kebuntingan pada seekor induk dapat dianggap terjadi apabila induk tidak menunjukan tanda birahi kurang lebih 3 minggu setelah terjadi perkawinan. Proses kebuntingan pada induk menimbulkan banyak perubahan fisiologis, sehingga setiap cekaman dari luar harus dapat dicegah semaksimal mungkin. Kepekaaan induk terhadap berbagai potensi cekaman ini semakin kuat seiring dengan bertambahnya usia kebuntingan. Masa bunting pada induk kambing sekitar 5 bulan (146-1 55 hari), namun periode paling kritis terjadi selam 6-8 minggu sebelum melahirkan, karena 80% pertumbuhan janin terjadi dalam masa singkat tersebut. Oleh karena itu, mengetahui saat terjadinya perkawinan menjadi sangat penting dalam menduga umur kebuntingan seekor induk.

Walaupun mengetahui saat kawin, umur kebuntingan dan prediksi waktu melahirkan sangat strategis dalam mengelola usaha produksi kambing, namun hal tersebut sering tidak menjadi perhatian yang serius oleh petetrnak. Beberapa tanda kebuntingan tua dapat digunakan sebagai alat bantu manajemen. Sebulan sebelum melahirkan induk kebuntingan jelas terlihat dengan membesarnya perut sebelah  secara nyata, disertai pula dengan pembesaran ambing dan puting yang sangat jelas.

Perkawinan Setelah Melahirkan

Setelah induk melahirkan maka seekor induk akan memasuki masa laktasi yang biasanya berlangsung sekitar 4 bulan sampai anak dapat disapih. Pada masa ini induk juga mengalami masa esterus dan dapat dikawinkan lagi. Perkawinan pertama induk setelah melahirkan adalah 1,5 – 2 bulan. Hal ini didasarkan waktu involusi uteri (kembalinya uterus ke bentuk dan besar yang normal sebelum kebuntingan) selama 20 – 35 hari.Deteksi birahi mulai dilakukan ketikan anak berumur 1 bulan. Karena pada birahi pertama dikhawatirkan kondisi uterus belum optimal maka disarankan untuk perkawinan dilakukan setelah muncul birahi kedua atau 45 – 50 hari pasca melahirkan. Jika pada perkawinan ini terjadi kebuntingan dengan lama bunting 5 bulan maka interval (jarak) bernaka bias 7 – 8 bulan, dengan demikian dalam 2 tahun seekor induk dapat beranak 3 kali.

Kalender Kawin

Untuk mengatur perkawinan, memperkirakan kelahiran, dan manejemen yang berkaitan dengan produksi kita perlu membuat kalender perkawinan ternak kambing. Untuk membuat kalender kawin kita perlu melakukan segala hal yang berhubungan dengan perkawinan yaitu, tanggal kawin, tanggal beranak, tanggal esterus birahi. Berikut contoh diagram rencana perkawinan seekor kambing betina.

                 
Skema mengawinkan kambing betina

 
Untuk dapat memperkirakan kelahiran, menyusui dan dikawinkan lagi setelah melahirkan kita dapat menggunakan kelender reroduksi yang dibuat oleh Soedito Adjisoedarmo dan Amsar (tahun 1983) sperti gambar berikut.
        

Kalender Reproduksi Ternak Kambing

Dari gambar diatas bagian tengah dapat diputar untuk menunjukan tanggal perkawinan.Sebagai contoh jika pada tanggal 3 mei terjadi perkawinan (pemacekan), maka pada tanggal 20 mei dilakukan test pemacekan lagi, jika betina esterus makan akan menerima pejantan, jika tidak menerima pejantan kemungkinan besar terjadi kebuntingan setelah perkawinan pada tangga 3 mei. Dari tanggal 3 mei tersebut kita jadikan patokan sebagai tanggal kawin, tinggal kita lihat perkiraan kelahiran yaitu antara akhir September s.d awal oktober. Pada minggu ke 4 s.d minggu ke 9 deteksi birahi dilakukan dan dapat dikawinkan bila terjadi birahi, pada bulan ke 3 setelah melahirkan anak dapat mulai dilatih untuk disapih, sehingga pada akhir bulan ke empat anak kambing (cempe) sudah benar benar disapih. Demikian  siklus tersebut berlangsung selama masa produktif inuk kambing.

Kesimpulan

Agar produksi cempe dapat berjalan optimal maka perlu adanya catatan reproduksi yang baik. Dengan pengamatan yang birahi yang baik kita dapat mengawinkan induk pada waktu yang tepat, memprediksi kelahiran, masa menyusui, penyapihan dan perkawinan setelah beranak dengan memanfaatkan kalende reproduksi.


0 Komentar untuk "KALENDER KAWIN PADA PETERNAKAN KAMBING DAN DOMBA"
Back To Top