image CARA MENANGANI CRD KOMPLEK DI PETERNAKAN AYAM (1) - Ternak Pertama



Ternak Pertama Menyediakan Berbagai Sarana dan Prasarana Unggas Dapat di Kirim ke Seluruh Wilayah Indonesia Bonus Ebook dan Gratis Konsultasi Selamanya Email : ternakpertamaku@gmail.com | Sms/WA : 089515248576 | PIN : 5FC2289D Bagi Yang Berminat Menjadi Agen Silahkan Hub Kami

CARA MENANGANI CRD KOMPLEK DI PETERNAKAN AYAM (1)

Ternak Pertama - CARA MENANGANI CRD KOMPLEK DI PETERNAKAN AYAM - Penyakit CRD komplek merupakan salah satu penyakit yang sering “mampir” ke peternakan ayam, baik ayam pedaging (broiler) maupun ayam layer (petelur). Penyekit ini sangat merugikan karena selain menghambat pertumbuhan dan produksi telur, CRD komplek juga mengakibatkan mortalitas yang cukup tinggi.

Penyakit CRD hampir pasti pernah terjadi di sebuah peternakan ayam. Hampir di setiap periode pemeliharaan, serangan bakteri Mycoplasma gallisepticum (penyebab penyakit CRD) selalu muncul. Penyakit CRD komplek merupakan penyakit CRD yang diikuti oleh penyakit sekunder antara lain collibasilosis.

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh kesalahan manajemen. Penerapan manajemen pemeliharaan yang kurang baik menjadi predisposisi (faktor pemicu munculnya penyakit). Meski demikian, serangan penyakit ini juga bisa disebabkan karena kualitas DOC yang kurang baik.


Faktor Pemicu Serangan CRD Kompleks

Kasus di lapangan, merebaknya kasus CRD kompleks seringkali disebabkan karena kesalahan manajemen pemeliharaan. Bahkan, penyakit ini disebut juga sebagai penyakit kesalahan manajemen. Kesalahan manajemen yang dimaksud adalah kepadatan yang terlalu tinggi, litter yang basah, sirkulasi udara yang tidak lancar, bioscurity yang buruk, temperatur pada masa brooding yang tidak optimal dan sebagainya. Kondisi ini diperparah dengan DOC yang berkualitas rendah.

Perbaikan genetik ayam ras telah menunjukkan perkembangan yang sungguh pesat. Ayam pedaging mampu tumbuh cepat dengan efisiensi ransum semakin baik. Demikian pula dengan ayam petelur, mampu menghasilkan telur dalam waktu lebih awal (bertelur lebih awal 2 minggu) dengan puncak produksi lebih tinggi dan persistensi produksi telur yang lebih lama.

Pada ayam pedaging, pertumbuhan berat badan yang begitu pesat tidak diimbangi dengan perkembangan organ dalam, seperti jantung dan paru-paru. Hal ini mengakibatkan paru-paru dipaksa bekerja keras dalam menyuplai oksigen untuk proses metabolisme tubuh. Akibatnya, organ pernapasan ini menjadi lebih rentan terhadap gangguan. Kondisi ini juga dialami oleh organ pernapasan lainnya, seperti hidung (sinus hidung), trakea dan kantung udara.

Pertumbuhan berat badan yang cepat tanpa diikuti dengan perkembangan organ dalam akan memicu munculnya penyakit saluran pernapasan. DOC dengan ukuran berat badan di bawah standar lebih rentan terserang penyakit pernapasan. Kondisi tubuhnya yang lemah menyebabkan DOC yang berukuran tubuh lebih kecil lebih mudah terinfeksi bakteri M. gallisepticum maupun E. coli.

Anak ayam yang terserang CRD akan menunjukkan gejala berupa tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare berwarna seperti tanah. Pada perkembangan selanjutnya, anak ayam menjadi rentan terhadap infeksi penyakit lainnya, misalnya korisa, IB atau ND. Hal ini disebabkan infeksi CRD menyebabkan kerusakan sinus hidung (sinus infraorbitalis) yang merupakan sistem pertahanan pertama bagi masuknya bibit penyakit melalui saluran pernapasan.

Oleh karena itu, untuk menjaga produktivitas ayam tetap optimal dan tidak mudah terserang penyakit saluran pernapasan (CRD komplek) penerapan tata laksana pemeliharaan yang baik sekaligus pengaplikasian konsep biosecurity secara ketat menjadi langkah yang tepat untuk mencapai hal itu.

Gejala dan ciri penyakit CRD Komplek

Penyakit CRD kompleks identik terjadi pada ayam pedaging, namun ayam petelur juga sering mengalami penyakit ini. Pada perkembangannya, serangan CRD kompleks pada ayam pedaging mulai terjadi saat umur > 2 minggu dan serangan CRD kompleks banyak terjadi pada umur 22-28 hari. Pada ayam petelur, serangan CRD kompleks paling sering menyerang pada umur 6-12 minggu.

Seperti halnya penyakit CDR, gejala CRD kompleks dapat berupa ngorok, lesu, bulu kusam, turunnya nafsu makan dan pertambahan bobot badan terhambat serta penurunan produsi telur pada ayam petelur. CRD Komplek merupakan penyakit komplikasi antara infeksi M. gallisepticum dan E. coli. Komplikasi keduanya menimbulkan perubahan yang khas, yaitu perihepatitis dan perikarditis fibrinus sampai fibrinopurulen. Salpingitis atau oviduk yang terisi eksudat kaseus juga mencirikan komplikasi CRD dan colibacillosis.


Pencegahan dan Penanganan

Rumus dalam penanganan terhadap suatu penyakit adalah penanganan penyakit harus disertai dengan perbaikan manajemen pemeliharaan. Oleh karena itu, sebelum atau setelah ternak terserang penyakit wajib melakukan perbaikan manajemen pemeliharaan.

Lakukan Seleksi Sedini Mungkin

Segera melakukan seleksi saat chick in menjadi salah satu teknik menekan penyebaran CRD. Lakukan culling (afkir dini) jika ayam cacat dan isolasi anak ayam yang lemah untuk diberi perlakuan khusus, seperti pemberian multivitamin  maupun antibiotik.

Perbaiki manajemen brooding

Masa brooding menjadi “pondasi” bagi pertumbuhan ayam pada masa selanjutnya karena masa brooding merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan seluruh sel dan organ tubuh ayam, yaitu organ pencernaan, pernapasan, reproduksi dan organ kekebalan atau pertahanan tubuh. Kesalahan pada periode ini akan memberikan dampak tersendiri yaitu pertumbuhan dan produktivitas yang tidak optimal. Terlebih lagi jika ayam sempat terserang penyakit (misalnya penyakit CRD kompleks).

Kunci awal keberhasilan pada brooding ialah persiapan, pembersihan dan desinfeksi kandang secara tepat dan menyeluruh. Jika kegiatan ini tidak dilakukan dengan baik maka saat chick in akan banyak ditemukan kendala, terlebih lagi bila periode sebelumnya terserang penyakit.

Kesalahan yang umum dilakukan peternak adalah saat kondisi cuaca dingin, pemanas atau brooder selalu dihidupkan dan tirai kandang ditutup (tanpa celah ventilasi) dengan anggapan agar mampu menjaga panas di dalam kandang tetap stabil. Namun, tahukah kita bahwa hal tersebut kurang tepat? Panas yang cukup memang menjadi syarat agar DOC AYAM dapat tumbuh dengan baik, namun mempertahankan panas dengan menghilangkan ventilasi kandang dapat berakibat sebaliknya. Ventilasi kandang yang tertutup akan menyebabkan gas sisa pembakaran dari brooder, amonia dari kandang maupun debu dari litter tidak dapat dikeluarkan dari kandang. Akibatnya, kualitas udara menurun sehingga memicu serangan penyakit pernapasan, terutama CRD. Selain itu, kasus ascites dapat terpicu dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, pertahankan suhu kandang agar tetap nyaman sekaligus tetap memberikan sedikit celah (20-30 cm) sebagai jalur sirkulasi udara.

Jaga dan perhatikan kualitas litter

Selain sistem sirkulasi tersebut, kualitas litter yang digunakan juga harus diperhatikan. Gunakan bahan litter yang mudah menyerap air dan tidak menimbulkan debu. Sebelum bahan litter dimasukkan lakukan desinfeksi terlebih dahulu. Saat masih memakai alas koran, lakukan penggantian koran setiap hari. Litter yang telah menggumpal dan basah harus segera diangkat dan diganti dengan yang baru. Kesalahan fatal yang sering terjadi di lapangan adalah seringkali liter yang basah hanya di tutup saja dengan sekam kering, akibatnya sekam yang basah tersebut menjadi media yang sangat ideal bagi berkembangnya bibit penyakit.

Artikel Selanjutnya :

0 Komentar untuk "CARA MENANGANI CRD KOMPLEK DI PETERNAKAN AYAM (1)"
Back To Top